|
"Rumahku surgaku", ujar Rasulullah singkat
saat salah seorang sahabat bertanya mengenai rumah tangga beliau. Sebuah
ungkapan yang tiada terhingga nilainya, dan tidak dapat diukur dengan
parameter apapun. Sebuah idealisme yang menjadi impian semua keluarga. Tapi
untuk mewujudkannya pada sebuah rumah tangga (keluarga) ternyata tidaklah
mudah. Tidak seperti yang dibayangkan ketika awal perkenalan atau sebelum
pernikahan. Butuh proses, butuh kesabaran, butuh perjuangan, bahkan
pengorbanan juga ilmu!
Saat ini, persoalan dalam keluarga membuat banyak pasangan suami istri dalam
masyarakat kita menjadi gamang. Baik yang datang dari dalam maupun dari luar.
Wajar, karena itulah hakikat hidup. Bukan hidup namanya jika tanpa masalah.
Justru masalah yang membuat manusia bisa merasakan kesejatian hidup,
menjadikan hidup lebih berwarna dan tidak polos seperti kertas putih yang
membosankan. Namun jangan sampai masalah-masalah itu mengendalikan diri kita
hingga kita kehilangan hakikat hidup.
Lihatlah sepanjang tahun lalu, tahun 2004, begitu banyak pasangan yang
mengajukan perceraian ke pengadilan agama dengan berbagai macam alasan.
Memang yang lebih banyak terangkat adalah kisah rumah tangga para selebritis
yang tak henti menghiasi layar kaca tentang rusaknya hubungan rumah tangga
mereka. Tapi sesungguhnya itu hanya puncak sebuah gunung es. Karena
masyarakat awam pun tak sedikit yang rumah tangganya bermasalah, bahkan
mereka yang mendapat sebutan aktivis dakwah.
***
Begitu banyak buku-buku pernikahan yang beredar di pasaran, bahkan sebagian
menjadi best seller. Tak hanya buku-buku non fiksi, bahkan para fiksionis pun
lebih senang mengangkat tema–tema merah jambu karena lebih disukai pasar.
Isinya kebanyakan bersifat provokatif kepada orang-orang yang belum menikah
agar segera menikah. Namun sayangnya hampir semua buku-buku itu isinya
terlalu melangit.
Maksudnya lebih banyak menceritakan pernikahan (kehidupan rumah tangga) pada
satu sisi yang indah dan menyenangkan. Sementara sisi "gelap"
pernikahan jarang sekali yang mengangkat. Tentang kehidupan setelah
pernikahan, tentang biaya-biaya berumah tangga, dan hal-hal lain yang tentu
tidak sepele dalam rumah tangga.
Isitrahatlah sejenak dari bermimpi tentang pernikahan. Jika mimpi itu hanya
berisi bagaimana mengatasi rasa gugup saat akad nikah. Atau tumpukan kado dan
amplop warna-warni menghiasi 'bed of roses'. Atau kalau hanya mengharap salam
indah dan atau jawaban salam dari kekasih. Apalagi membayangi bisa menatap,
berbicara dan menghabiskan waktu bersama belahan hati tercinta.
Pernikahan tidak cuma sampai di situ, sobat. Ada banyak pekerjaan dan tugas
yang menanti. Bukan sekedar merapihkan rumah kembali dari sampah-sampah pesta
pernikahan, karena itu mungkin sudah dikerjakan oleh panitia. Bukan menata
letak perabotan rumah tangga, bukan juga kembali ke kantor atau beraktifitas
rutin karena masa cuTapi ada hal yang lebih penting, menyadari sepenuhnya
hakikat dan makna pernikahan. Bahwa pernikahan bukan seperti 'rumah kost'
atau 'hotel'. Di mana penghuninya datang dan pergi tanpa jelas kapan kembali.
Tapi lebih dari itu, pernikahan merupakan tempat dua jiwa yang menyelaraskan
warna-warni dalam diri dua insan untuk menciptakan warna yang satu: warna
keluarga.
Di tengah masyarakat yang kian sakit memaknai pernikahan, semoga kita tetap
memiliki sudut pandang terbaik tentangnya. Betapa banyak orang yang menikah
secara lahir, tapi tidak secara batin dan pikiran. Tidak sedikit yang
terjebak mempersepsikan pernikahan sebatas cerita roman picisan dan aktifitas
fisik. Hingga wajar jika banyak remaja yang belum menikah saat mendengar kata
menikah adalah kesenangan dan kenikmatan. Hal itu ditunjang oleh buku-buku
pernikahan yang isinya ngomporin. Sementara sesungguhnya yang harus dilakoni
adalah tanggung jawab dan pengorbanan.
Memang pernikahan berarti memperoleh pendamping hidup, pelengkap sayap kita
yang hanya sebelah. Tempat untuk berbagi dan mencurahkan seluruh jiwa. Tapi
jangan lupa bahwa siapapun pasangan hidup kita, ia adalah manusia biasa.
Seseorang yang alur dan warna hidup sebelumnya berbeda dengan kita. Seberapa
jauh sekalipun kita merasa mengenalnya, tetapakan banyak 'kejutan' yang tak
pernah kita duga sebelumnya. Upaya adaptasi dan komunikasi bakal jadi ujian
yang cuma bisa dihadapi dengan senjata kesabaran.
Pasangan kita, yang kita cintai adalah manusia biasa. Dan ciri khas makhluk
bernama manusia adalah memiliki kekurangan dan kelemahan diri. Memahami diri
sendiri sebagai manusia sama pentingnya dengan memahami orang lain sebagai
manusia. Pemahaman ini penting untuk dijaga, karena cepat atau lambat kita
akan menemukan kekurangan atau kebiasaan buruk pasangan kita.
Oleh karena itu, bagi yang belum menikah, jangan terlalu banyak menghabiskan
waktu dengan memilih pasangan hidup saja. Apalagi parameternya tak jauh dari
penampilan, fisik, encernya otak, anak orang kaya, pekerjaan mapan,
penghasilan besar, berkepribadian (mobil pribadi, rumah pribidi), berwibawa
(wi...bawa mobil, wi...bawa handphone, wi...bawa laptop), dan sebagainya.
Tapi, pernahkah kita berpikir untuk membantu seseorang yang ingin mengembangkan
dirinya ke arah yang lebih baik hari demi hari bersama diri kita?
Lebih dari itu, pernikahan dalam konteks dakwah merupakan tangga selanjutnya
dari perjalanan panjang dakwah membangun peradaban ideal dan tegaknya kalimat
Allah. Namun tujuan mulia pernikahan akan menjadi sulit direalisasikan jika
tidak memahami bahwa pernikahan dihuni oleh dua jiwa. Setiap jiwa punya warna
tersendiri, dan pernikahan adalah penyelarasan warna-warna itu. Karenanya
merupakan sebuah tugas untuk bersama-sama mengenali warna dan karakter
pasangan kita. Belajar untuk memahami apa saja yang ada dalam dirinya.
Menerima dan menikmati kelebihan yang dianugerahkan padanya. Pun membantu
membuang karat-karat yang mengotori jiwa dan pikirannya.
Menikah berarti mengerjakan sebuah proyek besar dengan misi yang sangat
agung: melahirkan generasi yang bakal meneruskan perjuangan. Pernahkan
terpikir betapa tidak mudahnya misi itu? Berawal dari keribetan kehamilan,
perjuangan hidup mati saat melahirkan, sampai kurang tidur menjaga si kecil?
Ketika bertambah usia, kadang ia lucu menggemaskan tapi tak jarang membuat
kesal. Dan seterusnya hingga ia beranjak dewasa, belajar berargumentasi atau
mempertentangkan idealisme yang orangtuanya tanamkan. Sungguh, tantangan yang
sulit dibayangkan jika belum mengalaminya sendiri...
Menikah berarti berubahnya status sebagai individu menjadi sosial(keluarga).
Keluarga merupakan lingkungan awal membangun peradaban. Dan tentu sulit
membangun peradaban jika kondisi 'dalam negeri' masih tidak beres. Maka butuh
keterampilan untuk memanajemen rumah tangga, menjaga kesehatan rumah dan
penghuninya, mengatur keuangan, memenuhi kebutuhan gizi, menata rumah, dan
masih banyak lagi keterampilan yang mungkin tak pernah terpikirkan...
Ini bukan cerita tentang sisi "gelap" pernikahan (wong saya sendiri
belum nikah!). Tapi seperti briefing singkat yang menyemangati para petualang
yang bakal memasuki hutan belantara yang masih perawan. Yang berhasil, bukan
mereka yang hanya bermodal semangat. Tapi mereka yang punya bekal ilmu, siap
mental dan tawakkal kepadaNYA. Karena pernikahan bukanlah sebuah keriaan
sesaat, namun ia adalah nafas panjang dan kekuatan yang terhimpun untuk
menapaki sebuah jalan panjang dengan segala tribulasinya.
Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa yang kokoh untuk menghapuskan pemisahan.
Kesatuan agung yang menggabungkan kesatuan-kesatuan yang terpisah dalam dua
ruh. Ia adalah permulaan lagu kehidupan dan tindakan pertama dalam drama
manusia ideal. Di sinilah permulaan vibrasi magis itu yang membawa para pencinta
dari dunia yang penuh beban dan ukuran menuju dunia mimpi dan ilham. Ia
adalah penyatuan dari dua bunga yang harum semerbak, campuran dari keharuman
itu menciptakan jiwa ketiga.
Wallahu'alam bisshowab.
|